Begini Lho Cara Management Waktu Gabutmu
Saat itu, aku sedang berjaga di suatu puskesmas di Surakarta. Setelah orientasi, waktu menunjukkan pukul 08.30. Aku bersama 3 kawanku lainnya yang bertugas praktik di puskesmas itupun segera menuju ke ruangan kami masing-masing.
Aku bersama dengan seorang temanku bertugas di ruangan yang sama. Sesampainya di sana aku tidak mendapati seorangpun di dalamnya. Kami pun menunggu hingga kurang lebih satu jam, hingga waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Sampai saat itupun belum ada tanda2 ada bidan atau perawat atau dokter yang berjaga di sana. Hanya ada detikan jam dinding yang kami dengar di ruangan terpinggir dari puskesmas itu.
Hingga tiba-tiba ada seorang Bapak mengetuk pintu. Aku lihat ia membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan beberapa lembar kertas.
"Nak, ini yang tadi disuruh memfotokopi"
"Mmmm Mmmm..." aku yang dari tadi belum mendapat arahan apapun dari bidan yang bertugas di sana merasa bingung sejenak dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Baik Pak, saya carikan Mbaknya sebentar ya. Bapak silakan menunggu di sana"
Aku pun bergegas mencari siapapun, suster atau bidan atau apapun lah yang aku temui di sana.
Akhirnya di ruangan depan aku temukan seorang bidan yang kemudian bersegera menuju ruanganku.
Tak lama setelah bapak itu pergi, datanglah seorang ibu bidan, sebut saja Ibu Mawar yang ternyata ia adalah bidan yang bertugas di ruangan itu pada hari itu. Ia kemudian memintaku untuk mengambilkan bayi
"Dik tolong bayi dari bapak tadi bawa ke ke sini ya, mau diimunisasi"
"Baik Mbak." kataku.
Ketika aku keluar ruangan aku bertemu dengan dua kakak tingkatku yang saat itu kebetulan bermaksud mau konsul dengan bidan yang berjaga di ruanganku. Entah kenapa saat itu aku begitu senang sekali melihat kedatangan dua kakak tingkatku itu.
"Loh Mbak, Mbak ngapain? " kataku sambil tersenyum dan sedikit menahan tawa bahagia
"Mau konsul askeb dik, Bu Mawar ada di dalam?"
"Ada Mbak. Sebentar ya Mbak aku mau mengambil bayi dulu."
Setelah aku mengambil bayi dan melakukan imunisasi selesai, aku duduk di samping kakak tingkatku, sebut saja Mbak Rosa di ruang tunggu. Kami saling bertukar cerita, entah pengalaman organisasi, entah pengalaman praktik, atau hanya sekedar cerita kegabutanku saat menunggu di ruangan itu. Hingga suatu ketika ada suara telfon berdering dari handphone kakak tingkatku itu
"Kring...kring...." (anggap saja suaranya begitu)
"Iya Assalamu'alaikum"
Selepas memberikan salam tiba-tiba kakak tingkatku membacakan beberapa ayat suci Al-Qur 'an di dalam telfonnya. Setelah barulah ia melanjutkan pembicaraannya dengan biasa. Aku hanya bisa terdiam dan merenung. Bagiku pemandangan itu begitu indah. Hingga akhirnya Mbak Rosa memecah keheningan
"Dik, nanti kamu di sini akan bertemu dengan Bidan A, B, C, D" ia menyebutkan nama nama dan karakter bidan yang bertugas di ruangan itu. Aku tertampar ketika ia menceritakan pengalamannya saat ngeshift bersama salah seorang bidan di sana.
"Kalau sama bidan ini aku selalu semakan dengan dia. Setiap shift bareng dan sedang tidak ada pasien, kami selalu begitu" (semakan = murojaah hafalan AL Qur'an dimana salah satu memurojaah, salah satu menyimaknya pada mushaf).
Jleb, aku tertampar. Kenapa dari tadi aku hanya diam saja dan bahkan tidak memegang sedikitpun kalamnya. Merasa gabut tanpa berusaha melakukan sesuatu. Alasanku
"Ah, ini kan lagi praktik, gapapalah gausah Shalat Dhuha"
"Ah, ini kan praktik, buka HP aja gaboleh, apalagi membaca Al-Quran".
Tapi di situ Allah menegurku. Alasan-alasan itu ternyata hanya pembenaran bagi diriku sendiri, tapi jelas itu tidak ada dalam syari'atNya. Dengan skenario sangat indah seakan Ia berkata
"Begini lho sayang cara memanfaatkan waktu luang saat praktikmu"
Rasanya, Allah tahu bahwa kegabutan itu akan berlangsung hampir setiap hari dan itu tips yang ingin Allah sampaikan kepadaku kala itu.
Aku bersama dengan seorang temanku bertugas di ruangan yang sama. Sesampainya di sana aku tidak mendapati seorangpun di dalamnya. Kami pun menunggu hingga kurang lebih satu jam, hingga waktu menunjukkan pukul 09.30 WIB. Sampai saat itupun belum ada tanda2 ada bidan atau perawat atau dokter yang berjaga di sana. Hanya ada detikan jam dinding yang kami dengar di ruangan terpinggir dari puskesmas itu.
Hingga tiba-tiba ada seorang Bapak mengetuk pintu. Aku lihat ia membawa buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan beberapa lembar kertas.
"Nak, ini yang tadi disuruh memfotokopi"
"Mmmm Mmmm..." aku yang dari tadi belum mendapat arahan apapun dari bidan yang bertugas di sana merasa bingung sejenak dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Baik Pak, saya carikan Mbaknya sebentar ya. Bapak silakan menunggu di sana"
Aku pun bergegas mencari siapapun, suster atau bidan atau apapun lah yang aku temui di sana.
Akhirnya di ruangan depan aku temukan seorang bidan yang kemudian bersegera menuju ruanganku.
Tak lama setelah bapak itu pergi, datanglah seorang ibu bidan, sebut saja Ibu Mawar yang ternyata ia adalah bidan yang bertugas di ruangan itu pada hari itu. Ia kemudian memintaku untuk mengambilkan bayi
"Dik tolong bayi dari bapak tadi bawa ke ke sini ya, mau diimunisasi"
"Baik Mbak." kataku.
Ketika aku keluar ruangan aku bertemu dengan dua kakak tingkatku yang saat itu kebetulan bermaksud mau konsul dengan bidan yang berjaga di ruanganku. Entah kenapa saat itu aku begitu senang sekali melihat kedatangan dua kakak tingkatku itu.
"Loh Mbak, Mbak ngapain? " kataku sambil tersenyum dan sedikit menahan tawa bahagia
"Mau konsul askeb dik, Bu Mawar ada di dalam?"
"Ada Mbak. Sebentar ya Mbak aku mau mengambil bayi dulu."
Setelah aku mengambil bayi dan melakukan imunisasi selesai, aku duduk di samping kakak tingkatku, sebut saja Mbak Rosa di ruang tunggu. Kami saling bertukar cerita, entah pengalaman organisasi, entah pengalaman praktik, atau hanya sekedar cerita kegabutanku saat menunggu di ruangan itu. Hingga suatu ketika ada suara telfon berdering dari handphone kakak tingkatku itu
"Kring...kring...." (anggap saja suaranya begitu)
"Iya Assalamu'alaikum"
Selepas memberikan salam tiba-tiba kakak tingkatku membacakan beberapa ayat suci Al-Qur 'an di dalam telfonnya. Setelah barulah ia melanjutkan pembicaraannya dengan biasa. Aku hanya bisa terdiam dan merenung. Bagiku pemandangan itu begitu indah. Hingga akhirnya Mbak Rosa memecah keheningan
"Dik, nanti kamu di sini akan bertemu dengan Bidan A, B, C, D" ia menyebutkan nama nama dan karakter bidan yang bertugas di ruangan itu. Aku tertampar ketika ia menceritakan pengalamannya saat ngeshift bersama salah seorang bidan di sana.
"Kalau sama bidan ini aku selalu semakan dengan dia. Setiap shift bareng dan sedang tidak ada pasien, kami selalu begitu" (semakan = murojaah hafalan AL Qur'an dimana salah satu memurojaah, salah satu menyimaknya pada mushaf).
Jleb, aku tertampar. Kenapa dari tadi aku hanya diam saja dan bahkan tidak memegang sedikitpun kalamnya. Merasa gabut tanpa berusaha melakukan sesuatu. Alasanku
"Ah, ini kan lagi praktik, gapapalah gausah Shalat Dhuha"
"Ah, ini kan praktik, buka HP aja gaboleh, apalagi membaca Al-Quran".
Tapi di situ Allah menegurku. Alasan-alasan itu ternyata hanya pembenaran bagi diriku sendiri, tapi jelas itu tidak ada dalam syari'atNya. Dengan skenario sangat indah seakan Ia berkata
"Begini lho sayang cara memanfaatkan waktu luang saat praktikmu"
Rasanya, Allah tahu bahwa kegabutan itu akan berlangsung hampir setiap hari dan itu tips yang ingin Allah sampaikan kepadaku kala itu.
Komentar
Posting Komentar