Kenal KOPI nya, kenal kebaikannya

Sore itu ada kajian Ustad Oemar Mita di Karanganyar. Dengan temanya saat itu "Cinta Buta" aku sangat tertarik untuk menghadirinya. Hari itu, kurang lebih pukul 17.30 WIB aku bersiap bersama seorang temanku untuk berangkat ke majelis ilmu yang dijadwalkan pukul 19.00 WIB itu. Dari awal kami sudah berniat akan mabit di masjid tersebut karena kami yakin kajian itu akan melewati jam malam pondok kami. Dan ternyata benar, kajian itu selesai kurang lebih pukul 22.30 WIB. Kami kira di masjid tersebut akan banyak orang atau akhwat yang mabit di sana. Namun dugaan kami salah. Kurang lebih pukul 23.00 WIB masjid tersebut dikunci dan semua lampunya padam.

Tapi Alhamdulillahnya, beberapa menit sebelum masjid tersebut ditutup, ketika kami duduk di selasar masjid, ada seorang muslimah bercadar yang menghampiri kami. Rupanya ia sedang menunggu dijemput oleh suaminya. Dan setelah kami banyak mengobrol, tahulah bahwa suami Mbak Ranum tersebut (anggap  saja namanya Ranum) adalah seorang ketua sebuah komunitas hijrah di Karanganyar.  Hingga masjid tersebut ditutup, suaminya tak kunjung datang. Hingga beberapa menit kemudian, yang ditunggu pun tiba dengan motornya.
Setibanya di sana, Mas Wiro pun menjelaskan (anggap saja namanya Mas Wiro) bahwa di Masjid tersebut memang jarang ada orang mabit.

"Ya Allah, lalu dimanakah kami akan tidur malam ini?"

Sebenarnya, bisa saja mereka berdua meninggalkan kami jika mereka ingin. Alhamdulillah nya, Mas Wiro ini tahu masjid yang biasa dipakai untuk mabit dan ada penjaganya sehingga aman untuk kami berdua.  Sehingga malam itu juga, kurang lebih pukul 23.30 WIB, mereka mengantarkan kami menuju masjid yang dimaksud (kebetulan masjid itu searah dengan arah mereka pulang). Perjalanan yang ditempuh kurang lebih 15 menit itu mengantarkan kami pada sebuah masjid yang tidak terlalu besar yang kami mendengar suara banyak anak kecil di dalamnya. Nampaknya memang sedang ada anak2 yang mabit di sana. Dan ada dua penjaga yang sedang duduk sambil makan tepat di depan pintu masjid tersebut. Kemudian kami dipersilakan untuk mabit di tempat yang telah mereka sediakan.

Malam itu aku bersyukur, bisa bertemu dengan orang2 baik dan Allah sediakan tempat untukku bermalam malam itu.

Sedikit cerita mengagumkan yang aku dapatkan dari Mbak Mawar tentang komunitas yang dipimpin Mas Wiro. Komunitas itu bernama KOPIKA (Komunitas Pemuda Insyaf Karanganyar). Komunitas bukan berisikan orang-orang baik, tapi berisikan orang-orang yang ingin menjadi lebih baik.
"Anggotanya ya preman2 tobat kek gitu. Jadi jangan heran kalau di komunitas itu banyak orang -orang yang bertato, wkwk"
Aku mengangguk kecil.
"Berarti dulu suami Mbak juga seperti itu kah?" Pertanyaan itu muncul begitu saja seiring berjalannya cerita.
"Yaa...begitulah,wkwk" jawab Mbak Mawar sambil tertawa kecil.
"Caranya gimana tuh Mbak, bisa mengajak banyak orang yang awalnya tidak kenal agama hingga mau bergabung dengan komunitas ini?"

"Yaa...awalnya suamiku ikut2 nongkrong di warung kek gitu. Dalam obrolannya itu, suamiku memasukkan dakwah2 Islam. Ikut ke dalam hobi mereka misal bersepeda, dan sebagainya"

"Wah, keren (batinku) Lalu gimana caranya membuat orang2 itu bisa tetap betah di dalam komunitas ini Mbak?

"Jadi kegiatan2 di KOPIKA ini disesuaikan dengan kondisi mereka. Misal ada kegiatan Biker Subuhan yang mana kegiatannya itu adalah semua anggota berkeliling dengan motornya untuk solat subuh berjamaah di masjid2 yang berbeda."

Aku jadi tersadar bahwa di luar sana banyak orang2 yang perlu mendapatkan sentuhan dakwah. Kadang kita terlena dengan lingkungan yang sudah baik di sekitar kita hingga kita lupa bahwa di luaran sana banyak orang2 yang tidak seberuntung kita, memeperoleh nikmatnya keimanan dalam Islam.

Cerita itu seakan menamparku dengan pertanyaan
"Sudah sampai mana dakwahmu Tan? Mana perjuanganmu yang katanya untuk Allah?"

Komentar

Postingan Populer