Bermodal Harapan
Rasanya maluh itu. Malu akan kelalaian ku, malu akan ketidaktahuanku, malu akan kurang pekanya aku, malu, dan malu.
Dan hal yang paling membuatku malu dan tertohok adalah Allah justru memberikan kebaikanNya, mengabulkan doa-doaku disaat itu.
Hari itu adalah hari dimana aku menjalankan program kerja besarku yang pertama sebagai seorang ketua umum. Sebut saja kegiatan itu adalah kegiatan first gathering. Jujur, malam sebelum kegiatan itu berlangsung, sebelum tidur aku berangan "Seandainya saja acara itu bisa dibuat menjadi lesehan pasti lebih santai dan menyenangkan batinku. Tapi aku tidak tega untuk meminta temanku yang semuanya adalah seorang perempuan untuk mengangkati kursi2 lebih dari 50 buah itu dalam waktu mendadak. Lalu aku berangan kembali, "kenapa di rundownnya tadi tidak dibuat videonya di akhir saja ya biar sebagai penutup yang mengesankan dan ice breaking pemecah keheningan. Tapi ya sudahlah, rundownnya sudah jadi, berubah satu nanti jadi berubah semua, pikirku.
Akhirnya setelah berdoa dan doa dari kedua orang tua, aku tidur dengan mengharap bahwa Allah akan menyukseskan acaraku esok harinya. Sukses tercapai tujuannya, sukses kelancaran acaranya.
Keesokan harinya ternyata tidak semulus yang aku kira. Sejak bangun aku sudah terburu-buru karena telat bangun. Yang seharusnya kita kumpul jam 7 aku baru sampai kampus hampir jam 8. Jelas ini bukan sikap seorang pemimpin yang patut untuk dicontoh.
Lalu, sebelum aku berangkat, ada sebuah telepon yang membuat bising hp ku, ada pula beberapa panggilan tak terjawab sebelumnya. Kuangkat lah telepon itu dan kudengar di sana ada ketua panitia yang memberi kabar bahwa ternyata ruang yang akan kita pinjam untuk hari itu tidak bisa dibuka karena satu dan lain hal. Mereka sudah berkali kali nego dengan satpma untuk membukakan namun hasilnya nihil. Akupun bergegas ke sana dengan dandanan yang seadanya. Dalam perjalanan itu aku sudah mulai memutar otak bagaimana jika nanti kita tidak dapat ruangan. Mau dikemanakan kah anggota2ku yang sebanyak kurang lebih 50 orang itu? Meminjam ruangan lain sepertinya tidak mungkin karena hari itu adalah hari Minggu, apalagi dalam waktu yang sesingkat itu.
Masjid? Perlu peminjaman juga. Belum selesai berfikir, sampailah aku di tempat yang aku tuju. Sesampainya di lokasi, aku bertemu dengan panitia. Aku menyapanya namun sepertinya ia sedang sibuk mempersiapkan sesuatu, dan telah banyak diantara panitia lainnya yang bergotong gotong membawa tikar. Aku tidak begitu mempedulikan itu. Yang kulakukan pertama kali adalah menemui Bapak Satpam untuk meminta bantuan agar memperbolehkan kami memakai ruangan semula yang telah kami rencanakan. Mencoba memberikan jaminan, namun memang ada suatu kelalaian dari kami yang tak bisa aku bantah. Hingga akhirnya mau tak mau kita harus mengalah untuk pindah.
Setelah itu aku baru melihat, di seberang sana sudah banyak panitia dan beberapa peserta yang sedang membersihkan bangunan joglo itu dan menggelar beberapa tikar. Aku langsung menuju kepada mereka.
Setelah aku tanya kepada ketua panitia apa yang terjadi sebenarnya di situ, dia menjawab
"Kita pindah sini. Kata Pak Satpam boleh aja kalau di ruangan terbuka, monggo dipakai asal booking webnya"
Awalnya aku sudah agak lega. Paling tidak aku tidak akan mengorbankan waktu kurang lebih 50 orang yang mungkin seharusnya bisa pulang kampung hari itu. Akupun membantu mempersiapkan tempat itu, hingga ada seorang panitia yang mengadu,
"Mbak, nanti videonya jadi diputar tidak?"
Aku baru ingat, bahwa di sana belum ada LCD dan proyektor. Aku yakin dia pasti sudah menyisakan waktu yang sangat banyak untuk menyiapkan video itu.
Akhirnya aku bertekad, bagaimanapun aku harus bisa mendapatkan LCD dan proyektor.
Sampai akhirnya aku diingatkan oleh salah seorang teman bahwa SKI di fakultasku memiliki proyektor yang bisa disewakan dan masjid fakultasku memiliki LCD yang mungkin saja bisa dipinjam.
Tak menunggu lama aku hubungilah cp2 yang bersangkutan. Dia pun otw untuk memberikan barang yang akan kami pinjam.
Sembari menunggu LCD dan proyektor itu siap, kami pun memulai acara. Namun pemutaran video yang seharusnya dilakukan dilakukan di awal, karena belum ada fasilitas yang memadai untuk memutarnya akhirnya kami skip terlebih dahulu pemutaran video itu dan didahului dengan acara selanjutnya. Hingga akhirnya LCD dan proyektor itu baru siap digunakan sesaat sebelum games penutup dilakukan (persis seperti yang aku harapkan malam sebelumnya).
Selesai acara itu aku melihat wajah2 gembira dari setiap panitia maupun peserta. Aku meminta evaluasi dari beberapa PHT yang hadir di sana, dan kebanyakan dari mereka mengatakan bahwa acaranya seru dan asik. Seakan tidak ada yang mengingat apa yang telah terjadi pagi tadi.
Beberapa waktu setelah acara itu aku baru menyadari bahwa acara itu persis seperti yang aku bayangkan semalam sebelum aku tidur. Kita lesehan, dan video diputar dibelakang agar lebih mengesankan dan sebagai ice breaking. Rundown pun kurasa tidak terlalu molor.
Di waktu Ashar itu aku banyak bersyukur atas apa yang Allah berikan hari ini. Aku yakin, ini semua tidak akan terjadi tanpa skenarioNya. Entah karena doa orangtuaku, doaku, atau harapan hati yang membuat acara ini menjadi seperti saat itu.
NB :
Setelah aku meminjam LCD di masjid Rahmi dan kupakai di Joglo pada seseorang, aku baru tahu dari seseorang lainnya yang ia memang benar2 takmir di sana bahwa sebenarnya LCD itu tidak dipakai untuk acara yang di luar masjid Rahmi. Namun akhirnya Ia meminta agar ini menjadi pembelajaran untuk kami🙏🙏

Komentar
Posting Komentar