Penyembuh Itu Bukan Aku
Sebenernya aku cuma ingin menulis tapi gatau apa yang akan kutulis. Aku memilih menulis karena menulis adalah cara paling klasik untuk menyampaikan rasa, asa, atau cita. Baiklah semoga sedikit ceritaku ini bisa memberimu manfaat yaa
Saat itu aku iseng2 nganterin salah satu temanku ke RS. Moewardi untuk kontrol. Sebenarnya aku hanya nyusul, sedangkan temanku sudah di sana terlebih dulu sebelum aku datang. Karena pesan WA centang satu maka aku hanya berbekal ingatan bahwa ia diperiksa di bangsal "Anggrek". Sesampainya di sana aku bertanya tentang bangsal anggrek kepada orang2 sekitar dan ditunjukkanlah aku di suatu tempat yang cukup jauh dari tempat parkirku hingga sampailah aku di suatu bangsal yang di situ bertuliskan "isolasi covid-19" aku sedikit tidak percaya bahwa aku mendatangi bangsal covid-19. Agak ngeri juga waktu melihat ada pasien yang didorong oleh dua orang perawat yang menggunakan APD (Alat Perlindungan Diri) lengkap keluar dari kamar tersebut. Aku masih berpikir bahwa mungkin ada ruangan lain yang dipakai temanku untuk kontrol. Tapi ternyata lagi2 aku menemukan sebuah tempat bertuliskan "tempat pemberhentian ambulance pasien covid-19" deggg... "apa aku salah bangsal?"pikirku. Dengan langkah gontai karena saat itu sedang puasa aku tidak berani masuk lebih jauh ke bangsal tersebut dan memilih kembali dan bertanya pada orang sekitar "Pak bangsal anggrek dimana ya?" "Ini mbak lurus terus nanti ada masjid belok kiri" deggg arahnya sama ke tempat yang tadi berarti aku memang bener. Sampai di depan pintu masuk aku bertanya lagi pada seorang satpam "pak ngapunten, di sini kalau mau kontrol saraf dimana nggih pak?" "Di sana Mbak, di lantai 2" "Baiklah pak, terima kasih"sesuai petunjuk arah akupun menaiki lift menuju lantai dua. Tapi sesampainya di lantai 2 penampakannya tampak sangat berbeda dari tempat yang pernah kudatangi bersama temanku sebelumnya. Aku bertanya pada dokter dan perawat yang ada di sana dan mereka tidak tahu tempat yang kumaksud, jadi kemungkinan "AKU SALAH BANGSAL GAIS" (padahal udh capek2 kesana kemari, panas2, sendirian :(tapi tak apa) tak lama kemudian ada suara yang menggetar di sakuku. Ternyata ada telfon dari temanku. Segera kuangkat "Assalamu'alaikum" "Wa'alaikumussalaam Warahmatullaahi Wabarakaatuh... hallo Tan, ini aku udh selesai, baru aja, kamu dimana?" "aku di bangsal anggrek Mbak" "ya Allah Intan kamu salah bangsall wkwkwk" "lah yang bener Mbak?" "Iyaaa, aku di bangsal x . Itu bangsal covid Tannn" "huhuu terus gimana dong Mbak?" "Mmmm yaudah kita ketemuan aja" "dimana Mbak?" "terserah tan, ngikuut" "ini aku liat masjid kita ketemuan di situ aja ya mbak" "oke Tan"
"Dasar Intan (batinku)"
Dengan langkah gontai aku turun lagi dan menuju ke masjid besar yang bertuliskan "As-Syifa" sebuah nama yang pas pikirku untuk mengingatkan tentang siapa yang sebenarnya memberikan kesembuhan. Bukan perawat, bukan dokter, bukan bidan... Tapi Dia Asy-Syifa Sang Maha Penyembuh.
So, sudah seharusnya segala ikhtiar yang kita lakukan dibarengi dengan sujud yang dalam untuk memohon kesembuhan kepadaNya. Bukan justru dengan sibuk dan panik hingga lupa siapa sebenarnya yang memberikan nikmat sehat.Tetaplah jadi orang yang tenang dan menenangkan dikala kondisi seperti itu yaa(reminder juga buat aku).
Cukup sekian Fellas... Terima kasih sudah membaca 🙏
Wallahu a'lam bisshawab.

Komentar
Posting Komentar