Kisah Kemuhammadiyahan


Berawal dari kegelisahan yang begitu menyeruak dari dalam diriku sendiri. Pada saat itu memang sedang hectic-hecticnya berbagai organisasi yang aku pegang menjalankan prokernya masing-masing. Tak heran, akupun turut mengikuti proker-proker tersebut sebagai panitia. Di beberapanya, aku diamanahi untuk menjadi koor, wakoor, dan ketua panitia. Dan itu semua dalam acara yang berdekatan pelaksanannya. Aku sempat mengira bahwa aku salah jalan dengan mengambil banyak organisasi karena hal-hal yang aku senangi untuk aku lakukan, seperti menulis, menambah hafalan, dan sebagainya menjadi terhambat. Usaha yang pernah aku susun sejak awal menjadi terbengkalai dan tak terurus dan macet. Hampir semua waktuku terpakai untuk mengerjakan proker. 

Ini seperti salah jalan, tersesat, dan tak tahu arah jalan pulang. Hehe:") Nggak juga sih, intinya di posisi seperti itu aku harus benar-benar bisa memilah dan memilih kegiatan-kegiatan yang berguna dan tidak, apakah itu menguntungkan diriku sendiri atau juga untuk orang lain, apakah itu kepentingan pribadi atau kepentingan bersama, mana yang prioritas mana yang minoritas untuk aku kerjakan. Ini aku salah jalan, kataku pada diriku sendiri. Paradigma itu terus menerus berbunyi di telingaku selama beberapa waktu. 

Tapi aku terus menerus memotivasi diriku sendiri dengan mengingat tujuan awalku berada di sana, yakni memberikan kebermanfaatan bagi banyak orang, dan ini bukan salah jalan, ini hanya suatu jalan berliku berbatu yang memang telah disiapkan untukNya  bagiku agar aku lebih kuat dan mantap dalam menentukan langkahku selanjutnya. Aku yakin ada sesuatu yang lebih indah di depan sana  yang disiapkan olehNya yang saat ini sedang menantiku. Meskipun begitu, semua yang aku lakukan seperti kacau, kurang maksimal, dan aku merasa sering serba salah di mata orang lain. PIkirku, ini sungguh sudah tak lagi seimbang. 

Hingga suatu malam, di sepertiga malam aku terbangun, dan memohon petunjuk kepadaNya tentang apa yang harus aku lakukan. Dengan penuh keyakinan bahwa aku berpijak di dunia ini karenaNya, menempuh jalan ini bersamaNya, dan aku yakin semua akan kembali kepadaNya, akhirnya aku menemukan titik masalah yang selama ini aku fikirkan. Aku hanya takut pada sesuatu yang  bukan seharusnya. Kuncinya aku hanya takut. Takut tak bisa menyelesaikan tugas, takut tak bisa membawa perubahan kearah yang lebih baik, takut  tidak bisa membawa kebermanfaatan, takut akan pandangan orang lain yang telah memilihku jika aku tidak maksimal,  dan sebagainya. Perasaan itu tanpa kusadari hadir, mengalir dan hampir menguasai fikiranku. Sejak saat itu, aku sadar, banyak orang yang ingin mengubah dunia, namun ia lupa untuk mengubah dirinya sendiri. 

Di tengah jihadku untuk mereduksi rasa takutku yang tentunya ditemani oleh cinta dan petunjukNya, suatu malam, di pondokku sedang ada dirosah (sama seperti jam belajar) tentang kemuhammadiyahan. Aku tidak terlalu memperhatikan kajian tersebut karena memang aku tidak begitu tertarik dengan tema yang dibawakan oleh ustadz malam itu. Tapi ada satu hal yang membuatku berhenti dari obrolanku bersama teman sebelahku  dan begitu membekas di ingatanku, yakni saat beliau menjelaskan isi dan kandungan Q.S. Al-Jatsiyah ayat 23. Dalam ceramahnya, beliau menuturkan bahwa diri kita ini ibarat pesawat, semakin banyak bebannya maka akan semakin lambat lajunya, semakin susah terbangnya, dan semakin lama tingginya. Maka, janganlah terlalu memikirkan hal-hal yang sebenarnya diluar kendali kita. Ikhlaskan, biarkan beban-bebanmu itu  menguap bersama dengan nafasmu. (Ayat at picture ☝) 

Melangkah bersamaNya itu sungguh indah, penuh kasih sayang dan cinta. Ketenangan itu sungguh milikNya dan dariNya semata (Q.S. Ar-Ra’du ayat 28). Maka jika ada keburukanku yang kau ketahui,  jangan kau hina agamaku, jangan kau hina ajaranku, tapi ingatkan aku, karena sungguh keburukanku terlihat karena kelalaianku terhadap petunjuk-petunjukNya.

Wallahu A’lam Bisshawab

Komentar

Postingan Populer