30 Menit Pamungkas

Hari itu, tepat hari H jadwal bertemu dengan dosen , organisasi baruku masih belum mendapatkan sekretaris. Kami berniat akan melakukan koordinasi awal setelah terpilihnya para PHT. Dapat dibayangkan bagaimana wajah organisasiku jika sampai saat bertemu dengan dosen kita belum punya sekretaris. Sejak awal pemilihan sebenarnya kami dari formatur sudah merencanakan dengan rapih pengeplotan personilnya, namun memang, untuk sekretaris tak pernah ada yang cocok dan bersedia untuk menduduki posisi itu. Hingga H-1 sebelum pertemuan itu, orang terakhir yang aku hubungi menolak untuk menjadi sekretaris. Akhirnya aku pasrah dan formatur menyarankanku untuk menghubungi seseorang lagi. Oke, akhirnya aku hubungi beliau. Namun hingga hari H tiba beliau belum memberikan keputusannya. Ya akhirnya aku pasrah. Toh, yang penting kami sudah berusaha semaksimal yang kami bisa.
Pertemuan dijanjikan dimulai pukul 09.00 WIB, namun tiba-tiba ada pesan masuk dari dosen yang akan kami temui pukul 08.53 WIB yang isinya "Mba..sy sampe kampus msh 30menitan".
Aku melihat pukul 08.52 ada panggilan yang terlewat olehku dari salah satu temanku. Tepatnya dia salah satu orang yang awalnya aku hubungi untuk menjadi sekretaris namun menolaknya. Aku tidak terlalu mempedulikan panggilan terlewat tersebut. Kalau emang penting pasti dia akan meninggalkan pesan atau telfon balik batinku. Dan ternyata benar, pukul 08.56, dia menelepon kembali. Kali ini tidak lagi luput untuk kuangkat.
Sejenak tak ada suara apapun dari dalam telephone, hingga dari kejauhan sana,
"Halo, Assalaamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalaam Warahmatullaahi Wabarakaatuh" jawabku
"Tan, apakah posisi sekretarisnya udah ada yang mengisi"
"Belum2, kenapa Mur" ucapku sambil hati berharap ia berubah pikiran
"Yaudah deh Tan aku mau menjadi sekretaris."
"Beneran Mur?" Anggap saja namanya Murni
"Iya Tan, beneran"
"Alhamdulillah, oya nanti sekitar jam setengah 10 kita ada koordinasi dengan dosen apakah Murni bisa ikut?"
"Wah 30 menit lagi ya, yaudah Tan, aku siap-siap sekarang ya."
Sejenak suasana hening kembali
"Oke Mur, hati-hati ya" jawabku.
Kurang lebih seperti itu isi panggilan berdurasi 2 menit 13 detik itu.

Ternyata waktu 30 menit itu Allah berikan agar aku dapat membawa PHT PHT organisasiku secara lengkap di depan dosen. 30 menit Allah memberi kesempatan untukku mengangkat telephone yang kedua, Allah memberiku waktu untuk berdiskusi dengannya kembali, dan Allah memberi waktu untuk Murni bersiap-siap menemui ibu dosen. Sungguh skenario yang luar biasa. Mataku berkaca, teringat akan kebesaranNya. Sang Maha Besar, Sang Maha pembolak balik hati. Saat itu juga kuambil mukenaku dan kutumpahkan rasa syukur di keharibaanNya dalam alunan Shalat Dhuha.

Komentar

Postingan Populer