New Decision
Kadang atau bahkan sering, di suatu organisasi atau untuk diri kita sendiri, berulang kali kita menunda untuk melakukan sesuatu hal. Nanti sajalah, masih ada waktu, sekarang aku kerjakan dulu yang paling urgent. Entah itu benar2 urgent, entah itu suatu kata urgent hanya untuk menutupi kemalasan diri sendiri. Ya, seolah waktu menjadi milik kita sendiri. Sampai kapan? Sampai waktumu habis dan hanya tertinggal penyesalan? Atau sampai Allah menegurmu dengan cara yang sangat keras? Sungguh, Allah memberikan waktu untuk kita bukan hanya untuk dihabiskan dengan rebahan, bukan hanya untuk scrolling hal2 yang mungkin bukan buruk tapi tidak menghasilkan manfaat. Bagaimana jika setiap nanti yang Allah berikan padamu ini, nanti di akhirat Dia meminta pertanggungjawabannya. Apa yang mau kamu katakan? Banyak hal yang seharusnya menjadi tanggungjawabmu namun menjadi terbengkalai karena perilakumu sendiri. Kapan kamu berubah? Apa kamu mau menunggu sampai waktu yang Allah kasih ini ditarik lagi olehNya? Banyak kode darinya yang sering kita abaikan, mulai dari rasa tidak nyaman saat tidur, menunjukkan berbagi hal bermanfaat yang bisa kamu lakukan, atau hal lain yang sebenarnya itu membuka hati kita jika saja kita menyadari. Padahal decision yang Allah berikan untuk kita memanfaatkan waktu sudah sangat jelas, "Maka setelah kamu selesai suatu (urusan) maka kerjakanlah (urusan) yang lain dengan sungguh-sungguh" (Q. S. Al-Insyirah:7) dan satu hal lagi decision yang memberi petunjuk kepada kita bagaimana untuk bersikap bijak dalam melangkah dan memanfaatkan segala fasilitas yang Ia berikan untuk kita “Tinggalkanlah segala yang meragukanmu dan ambillah yang tidak meragukanmu.” (HR. Tirmidzi, no. 2518. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Sungguh manusia, bersikap sombong dengan segala yang dimiliki, memanipulasi seolah waktu adalah miliknya sendiri. Nanti nanti tapi tak pasti. Seperti halnya kisahku berikut ini:
Sua
Sua
Komentar
Posting Komentar