Hari Ini Kita Bercerita Tentang Hari Nanti

Siang itu, sebuah pesan singkat masuk di WA ku. Pesan itu ternyata datang dari pemilik bimbel yang aku gabung di dalamnya sebagai (calon) pengajar . Aku yang sedang menikmati waktu liburanku di rumah cukup dilema dengan isi pesan tersebut. Dalam pesan itu Bapak Wiro (anggap saja namanya Wiro) menawarkan kepadaku untuk mengajar les private anak kelas 2 SD. Di satu sisi, aku ingin mengambil job itu dengan alasan ingin meringankan beban orang tua. Di sisi lain aku masih belum sepenuhnya ikhlas bahwa waktu liburanku menjadi terpotong. Sedih rasanya, padahal masih ada waktu liburan kurang lebih satu Minggu lagi. Apalagi jika teringat, selama liburan ini rasanya aku belum bisa memberikan apapun yang bermanfaat bagi keluarga dan sanak saudaraku. Intinya aku belum siap untuk kembali ke perantauan. Banyak hal yang aku targetkan akan selesai selama waktu liburan ini namun belum terwujud. Layaknya kepompong, aku rasa semediku belum cukup untuk memperbaiki diriku di perantauan. Atau bekalku belum cukup untuk menghadapi berbagai hiruk pikuk di kota orang.

Entah kenapa, kejadian itu mengingatkanku tentang panggilanNya kelak. Pesannya begitu tiba2, tanpa bisa ditunda dan harus segera. Aku menjadi tersindir, seberapa banyak bekal yang sudah aku persiapkan untuk menghadapi kehidupan setelah aku dipanggil nanti ?
Seberapa siapkah menghadapinya? Jika suatu saat secara tiba2 Sang Kuasa memanggilku, apa yang akan bisa membuktikan bakti dan rasa cinta ku kepadaNya. Untuk apa sajakah waktu bertahun tahun yang Ia berikan kepadaku? Dengan panggilan shalatnya saja tanpa sadar sering kuabaikan.

Aku merasa, semakin lalai kita hidup di dunia, semakin terkejutlah kita dengan panggilanNya. Andai waktu itu bisa ditawar, barang semenit saja, pasti itu akan kita isi dengan kebaikan atau minimal melakukan hal2 yang bisa dikenang oleh orang2 yang kita cintai. Namun sayang, panggilanNya tidak sama dengan pesan WA yang bisa kita read kapan saja, yang bisa kita fikirkan terlebih dahulu jawabannya. Yang memberi waktu kita untuk dilema, yang memberi waktu kita untuk berdiskusi. Namun tidak dengan ini. Panggilan itu segera, tanpa kabar, dan tanpa tanda.

  • Akan diisi apa mizanku di akhirat nanti? 

Komentar

Postingan Populer