THE MOST WONDERFUL STORY (Saat Hati Mulai Meraba Kasih SayangNya)

Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakaatuh.

Alhamdulillah hingga hari kita masih diberi kesempatan untuk hidup dalam naungan kenikmatan Islam oleh Allah SWT.
Shalawat serta salam selalu tercurah kepada junjungan kita Baginda Nabi Muhammad Rasulullah SAW.
Terima kasih pula atas kesempatan yang telah diberikan untuk saya menyampaikan sedikit kisah hidup saya bersama Al-Qur'an. Tidak terlalu menarik, tapi semoga ada hikmah yang bisa teman2 dapatkan.

Bismillah..
Sejak kecil saya dibesarkan di keluarga yang kadar keislamannya biasa2 saja menurut saya. Ibadah wajib dijalankan, ibadah Sunnah, yaa beberapa jalan. Bisa dibayangkan lah gimana maksud saya :")
Sebelum sekolah hingga TK saya hanya belajar Al-Qur'an bersama Ibuk dan teman-teman di mushola. Saling mengajari satu sama lain. Yang lebih tua mengajari yang lebih muda, begitulah kerjanya.

Saya TK juga bersama Ibu saya di TK Pertiwi 2 Brumbung sejak usia 4 hingga 6 tahun. (Nggak penting ya,hehe... Maapkeun). Karena Ibu ingin saya lebih mandiri akhirnya tahun terakhir saya di TK, saya dipindah di TK Pertiwi 2 Jepon sejak usia 6 hingga 7 tahun.

Usia 7 tahun tepatnya tahun 2007 saya masuk SD di SD N 5 Jepon. Di sini oleh orang tua saya, saya dimasukkan di TPA. Awalnya saya merasa senang di TPA, namun lama kelamaan rasa malas begitu menggoda sosok kecil itu untuk menuntut ilmu agama. Sering saya pura-pura tidur, sering sampai saya menangis karena dipaksa orang tua untuk masuk. Sampai akhirnya kelas 4 SD saya benar2 mogok tidak mau TPA. Saya minta pindah di TPA tempat teman-teman saya mengaji. Alhamdulillah rasa malas itu sudah semakin berkurang karena banyak teman dekat yang di sana.

Lanjut masa SMP. Saya menempuh pendidikan SMP di SMP N 1 Jepon. Di SMP ini lah saya mulai menyusun prioritas. Dan prioritas utama saya saat itu adalah prestasi. Dapat ditebak bagaimana hasilnya :"). Saya begitu menggebu untuk meraih prestasi setinggi-tingginya saat itu. Sampai2 saya lupa siapa yang memberikannya. TPA saya mulai berhenti dengan alasan "sibuk belajar". Tilawah sangat jarang dilaksanakan. Bahkan dengan nakalnya saya menolak untuk berjilbab di sekolah dengan alasan takut gerah dan tidak fokus saat belajar. Dan sebagainya. Intinya kualitas keimanan saya saat SMP benar-benar turun dengan alasan yang menurut saya benar saat itu tapi pada akhirnya saya paham bahwa itu salah.

Lanjut masa SMA. Sedikit kegagalan prestasi di masa SMP saya membuat saya semakin berkeinginan besar untuk mengubahnya di masa SMA. Namun anehnya, di masa ini seperti Allah mengingatkan saya dengan caraNya, porsi belajar saya masih tetap sama bahkan mungkin lebih. Tapi, semua usaha yang saya lakukan tidak membuahkan hasil yang sama seperti saat saya masih SMP. Hampir setiap perlombaan yang saya ikuti tidak pernah memunculkan nama saya sebagai juara. Berkali kali saya mengoreksi diri namun memang Allah memiliki rencana lain. Alhamdulillah, saya bersyukur, ketika di SMA saya menemukan teman2 yang sedikit demi sedikit dapat mengingatkan saya kepadaNya. Tanpa lelah mereka berdakwah dengan caranya masing-masing. Sehingga saat kelas 11 SMA, saya mulai sedikit demi sedikit mengubah prioritas saya. Dan itu benar-benar berubah ketika kelas 12 SMA semester 2. Ada suatu momen yang menurut saya itulah momen ketika Allah benar-benar mengingatkan saya dengan begitu perlahan namun pasti. Semenjak itu, prestasi bukan lagi menjadi prioritas utama dan pertama. Saya sadar hanya Allah yang berhak atas hati, jiwa, raga, dan semuanya. Sejak saat itu, seperti skenario film, hal-hal yang sebenarnya tidak ingin saya raih justru itu datang dengan sendirinya. Prestasi, akademik, nilai, teman, sahabat seolah mereka datang tanpa saya usahakan, bahkan bisa dibilang mereka datang tanpa diundang. Sejak saat itu saya mulai berdamai dengan dunia, dengan semuanya. Manusia berencana, Allah yang menentukan.

Seperti halnya dunia perkuliahan saya saat ini. Saya tidak pernah berencana kuliah di UNS. Tapi ternyata Allah menentukan demikian. Sedihh?? Iya awalnya. Tapi tidak butuh waktu lama, akhirnya saya begitu bersyukur bisa berkuliah di sini. Mendapatkan teman-teman dan lingkungan yang benar-benar bisa mendukung proses berhijrah saya. Mau kajian? Ada temennya. Mau berjamaah? Tinggal ketik pintu kamar atas. Mau mabit? Tinggal senggol temen sebelah.  Mau datang ke majelis ilmu? Tinggal bangunin temen se kos pake alarm, wkwk

Cukup sekian kisah singkat saya bersama Al-Qur'an. Semoga ada hikmah yang bisa diambil. Kurang lebihnya  saya mohon maaf 🙏

QnA : (ditanyakan pada saat forum bercerita)
*1. Q : Afwan mau tanya nih,  gmn reaksi keluarga km dengan km yang sekarang?*
A : Kayak larutan kimia aja ya Mbak bereaksi, wkwk...
Sekarang Alhamdulillah keluarga masih aman2 aja. Cuma mereka sering mengingatkan untuk hati2 dengan berbagai aliran2 di Solo. Soalnya setau mereka di sini banyak aliran agama yang masih jarang di kampungku. Mereka khawatirnya aku terbawa dengan arus2 itu (mungkin sebenarnya itu bukan aliran aneh yang sebenarnya sih🙏). Apalagi pas pertama aku bilang kalau mau mondok, banyak wejangannya. Terus skrng banyak diingatkan untuk lebih baik lagi dalam membagi waktu

2. Q : Pernah gak mbak, ngerasa ada yang mengganjal (wkt masi dlm proses menjadi lebih baik) tapi lebih pilih bodo amat sma perasaan itu..?
A :  MasyaAllah
bukan lagi pernah, bahkan sering. Rasanya sudah tak terhitung berapa banyak bodo amat yang aku katakan pada banyak hal. Terutama untuk hal2 yang kurang jelas manfaatnya, hal2 yang akan aku lakukan bukan karena Allah, atau hal2 yang bisa menghambat proses hijrahku

3. Q : Afwan mau tanya, hubungannya dengan teman-teman yg dekat waktu SMA sekarang gmn?
A :  Sekarang kami sudah menyebar, saling menuntut cita2 masing2. Dengan banyaknya kesibukan juga jarang chat. Paling komen2an story aja atau ketemuan pas liburan bareng

4. Q : Boleh diceritain ga momen yang bener2 bikin @⁨RVana⁩ berubah waktu SMA itu?
A :  Boleh, Bismillah ya...
Waktu itu kelas 11 semester 1. Aku merasa udah mulai malas belajar karena kek hasilnya nggak sesuai dengan harapan. Tapi Qadarullah saat itu Allah justru memberiku hadiah yang sama sekali nggak terbayangkan sebelumnya. Aku menjadi peringkat pertama seangkatan. Tapi aku justru merasa ada yang aneh. Kek aku gatau apa yang bikin tiba2 bisa meraih prestasi itu. Mungkin ada yang pernah denger pepatah, "kalau kau naik tanpa perhitungan, maka kau juga akan turun tanpa penghormatan" (kurang lebih seperti itulah bunyinya, maap kalau kurang pas 🙏).Berbagai pujian datang dari guru, teman, sahabat, orang tua. Semuanya.
Tapi, setelah semester itu, peringkatku terus menurun lagi. Dari peringkat 1 umum di semester 1, jadi peringkat 5 umum di semester dua. Dan di kelas 12 semester 1 bahkan peringkat 1 kelas pun sudah diduduki oleh orang lain. Padahal di tiga semester itu porsi belajarku masih sama menurutku. Sampai akhirnya seperti tidak ada lagi tempatku cerita, menumpahkan kesedihan, dan meminta pertolongan selain kepadaNya. Yaa.. sejak saat itu lama sekali aku bermunajat kepadaNya dan memohon petunjukNya. Danu Alhamdulillah, dari rangkaian skenario itu banyak pembelajaran hidup yang Allah tunjukkan untuk menuju tujuan hidup yang sesungguhnya

5. Q : Tanya lagi2.
Udah mantab berhijab sejak kapan?
😅
A :  Sejak SMA, wkwk


Closing statement :
Alhamdulillah, atas izinNya saya telah selesai menceritakan cerita sesi kisah awal hijrah saya.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.
_"Seorang yang beriman tidak terperosok di satu lubang yang sama dua kali_ (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Semoga kita bisa menerapkan ini dan bisa terus memperbaiki diri. Aamiin

Wassalamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh.

Komentar

Postingan Populer