Pengalaman Menjadi Asisten Bidan


Menjadi seorang asisten bidan ternyata tidak semudah yang aku bayangkan harus beradaptasi dengan pekerjaan baru dan keluarga baru apalagi ini kali pertama aku bekerja dan jauh sekali dari tempat tinggalku. Setelah dunia dilanda pandemi covid yang begitu panjang dan mengharuskan aku di rumah saja selama kurang lebih dua tahun kali ini aku harus benar-benar keluar jauh dari rumah untuk mengasah kemampuan. Berat memang, sangat berat meninggalkan keluarga.. hal yang paling berat adalah meninggalkan adik seseorang yang ingin aku lindungi, ingin aku beri contoh setiap saatnya maaf ya dek jika Mbak Intan belum bisa menjadi contoh yang baik buatmu. 

Back to topic..  jauh dari keluarga rasanya memang berat tapi aku yakin dengan niat yang tulus dan kuat aku akan bisa bertahan dan aku akan beradaptasi di sini. Fyi salah satunya niatku kenapa berani mengambil pekerjaan ini adalah karena aku merasa skill atau kemampuan yang aku dapatkan selama di perkuliahan sangatlah kurang karena segala praktik terhalang pademi dan aku merasa belum pantas disebut sebagai bidan dengan kemampuanku saat itu. Bagiku itu adalah pekerjaan mulia yang harus dijalankan dengan amanah bukan hanya soal profesi tapi itu adalah amanah dari Sang Maha kuasa untuk menjadi bidan. Amanah akan ilmu-ilmunya, amanah akan kebermanfaatannya untuk orang-orang sekitar... aku merasa masih terlalu susah untuk mengeja itu semua. Itu juga yang melatarbelakangiku untuk tergabung dalam Temani ibu meskipun di sana tugas utamaku adalah mendesain, hal yang tidak pernah aku dalami sebelumnya, haha..tapi aku senang dan bersyukur bisa berada disini. 

Di sini aku bisa menyebarkan ilmu-ilmu kepada banyak orang yang membutuhkan dan beruntungnya lagi aku bertemu dengan wanita-wanita hebat dan menginspirasiku. Mereka adalah Mbak Tiwi, Mbak Brian, dan juga Dik Nisa.

Kembali ke asisten bidan hehe... Hari pertama di sini jujur aku tidak tahu harus melakukan apa karena asisten bidan yang lama sudah pulang duluan ke Bandung sebelum aku ke sini sehingga tidak ada yang mengajariku akhirnya aku mencari-cari ide di YouTube apa yang harus aku lakukan dihari pertama menjadi asisten bidan dan taraa... dapatlah aku sebuah ide untuk roomtour. Alhamdulillah dari situ aku merasa sedikit lega telah mengetahui sedikit dari pekerjaanku tidaknya tidak kosong blong hehe... 

Sesampainya bu bidan di rumah aku diberitahu tentang tugasku di sini, ini dan itu. Awal-awal terasa sangat susah, harus belajar banyak hal mulai dari laporan, registrasi pasien, dan lain-lain... ahh pusing 🙈

Aku yang orangnya cenderung introvert harus bertemu dengan orang-orang baru, keluarga baru sendirian tanpa keluarga dekat setiap harinya. Belum lagi pekerjaan yg aku belum tahu seluk beluknya. Benar saja kata Bapak, suami Bu bidan saat aku pertama kali bertemu beliau, beliau berkata "Bekerja itu yang penting niat dan senang dulu nanti akan kerasan selanjutnya. Kamu niat kan?" "Niat Pak :")" jawabku tegas, yang penting yakin dulu urusan bingung belakangan hahaa

Benar saja tanpa niat dan tekad yang kuat mungkin aku sudah menyerah di awal karena takut, bingung harus bagaimana, kangen keluarga, dan lain-lain belum lagi nanti dimarahin saat ada sesuatu yang salah tapi itulah yang namanya bagian dari proses.

Setiap hari aku belajar hal2 baru setiap hari aku mencatat hal-hal baru apa saja yang aku pelajari termasuk ketika aku salah. Keluarga baru yang baik, ramah dan terbuka cukup mengalihkanku dari rindu keluarga atau homesick ala-ala di kampung halaman hehe 

Semakin hari aku semakin terbiasa dan mulai mengerti pola kerjaku. Beruntung ada Mbak asisten Ibu bidan dulu, dia bersedia datang mengajariku di awal-awal aku bekerja dan selalu gercep untuk merespon ketika aku menanyakan sesuatu. Aku juga semakin terbiasa berkomunikasi dengan orang-orang baru, pasien baru, dan lain-lain. Untuk melatih ini aku juga belajar dari buku "How to Win Friends and Influence People" dari Del Carnegie berkat saran dari temanku, Zalfa Azalia Pursita, terima kasih ya Zal 🤗

Di dalam hatiku aku selalu berkata harus kuat dan tahan disini tapi mungkin tidak sesulit itu kok kalau kamu punya kemampuan adaptasi dan komunikasi yang handal, tapi kamu harus tetap kuat karena pekerjaan apapun pasti ada susah senangnya dan dunia tidak ada yang instan bukan? Mie instan aja masih direbus hahaa Intinya tetap ikhlas, tawakal, dan selalu berdoa kepada Tuhan agar diberi kemudahan dan kekuatan. 

Oh ya kamu juga nggak melulu bekerja kok meskipun tinggal di rumah bidan dan sebutannya bekerja 24 jam kamu masih punya banyak waktu luang untuk mengembangkan dirimu, karirmu dan tentu ibadahmu, tapi memang menjadi asisten bidan agak susah untuk keluar-keluar misal belanja ke supermarket dan lain-lain mungkin kalau kamu orangnya enakan bisa izin keluar sebentar untuk belanja atau beli makanan kesukaanmu. Ohya di sini untuk liburnya aku diberi libur satu hari setiap minggunya namun sesuai kebiasaan di sini aku menggabungkan libur tersebut di akhir bulan atau merapelnya agar bisa pulang. Kalau kamu tipe anak yang suka keluar bareng sama teman-teman atau hangout harus siap-siap untuk mengubur keinginan itu yaa haha karena disini kita dituntut untuk stay kapanpun bidan butuhkan kita, HP harus selalu on 24 jam untuk bersiaga jika sewaktu-waktu ada panggilan persalinan, tidur siang harus tetap terjaga alias gabisa tenang karena bell itu bisa berbunyi sewaktu-waktu tanda ada pasien belum lagi jika ada pasien partus tengah malam jadi harus mengatur waktu dengan sangat baik.

Begitulah lika-liku menjadi asisten bidan, tapi disamping itu semua aku bersyukur dipertemukan dengan orang-orang yang suportif di pekerjaan baruku. Ada kader, keluarga bu bidan yang ramah tamah, dan semua orang yang terlibat. Aku juga bersyukur mendapatkan tempat kerja yang bisa mendukungku dan ilmu-ilmu yang aku dapatkan dari bu bidanku, benar-benar bisa menjadi landasan untukku melangkah di step2 selanjutnya InsyaAllah karena beliau benar-benar bidan yang disiplin, kompeten, cekatan dan bertanggung jawab dalam setiap tugasnya. Bahkan semua kegiatan-kegiatan di Desa Tangkisanpos ini bisa berjalan dengan baik mulai dari kelas ibu hamil, kelas Ibu balita, kelas balita gizi buruk, posyandu balita, posyandu remaja, posbindu hingga lansia, semua terkoordinir dengan apik. Salah satu hal yang membuatku kagum di sini. Kadernya pun loyal dan terlihat saling membantu satu sama lain. Dari mereka aku merasa nyaman untuk menjadi diriku sendiri.

Waktu berjalan tanpa aku rasakan sampai sekarang aku sudah delapan bulan menjadi asisten bidan dan aku merasa mungkin sudah hampir cukup berprosesku di sini. Bukannya aku tidak bersyukur atau tidak betah tapi ada hal lain yang harus kukejar. Rasanya masa depan ini masih panjang dan aku tidak boleh menyia-nyiakan masa sekarang semua harus berjalan hingga menemukan ujungnya, jannahNya. 

Sudah cukup sekian dulu ya pengalamanku menjadi asisten bidan. Semoga suatu saat bisa menceritakan lagi pengalaman-pengalaman lainnya. Aku juga akan senang jika bisa mendengar atau membaca pengalaman-pengalaman mu. Sampai jumpa teman-teman... Semoga sehat selalu 💕

Komentar

Postingan Populer