Memaknai Kemerdekaan

Sebelumnya aku ingin mengucap syukur terdalamku kepada Allah SWT. atas kemerdekaan yang diberikan kepada Bangsa Indonesia sejauh ini dalam usianya yang tidak lagi belia.Tidak ada satupun daun yang jatuh tanpa seizinNya apalagi untuk mencapai kemerdekaan di usia yang tidak sebentar 77 tahun. Bukan waktu yang sebentar dan tentu tidak mulus untuk melaluinya. Ada banyak lika liku dan perjuangan sebelum dan sesudah hitungan itu dimulai. MasyaAllah, jika berbicara perjuangan para pahlawan mungkin tidak ada habisnya. Bahkan ketika membaca beberapa kisah para pejuang membuat hatiku tersentuh :"( 

Aku memaknai hari ini sebagai hari kemerdekaan, hari dimana kita terbebas dari pendiktean orang lain maupun persepsi diri sendiri (eitss baca dulu sampai akhir ya). Dalam stoisisme kita diajarkan bahwa kita memiliki kendali penuh atas diri kita dan kita tidak memiliki kendali atas apa yang orang lain katakan/perbuat/lakukan kepada kita. Tugas kita adalah selaras dengan alam. Selaras dengan alam di sini adalah bahwa kita diciptakan untuk selaras dengan bagaimana kita diciptakan. Seperti batu yang dilemparkan ke atas. Saat batu itu naik ataupun turun batu itu tetaplah batu, tidak akan menaikkan atau menurunkan nilainya sebagai batu... Sama seperti manusia dalam keadaan naik ataupun turun kita tetaplah manusia yang diciptakan sebagai makhluk sosial, memiliki perasaan, emosi, dan lain-lain. Tapi kabar baiknya kitalah yang memiliki kendali penuh atas diri kita. 

Kalau kata Friederich Douglass, seorang pejuang antidiskriminasi kulit hitam mengatakan bahwa "Tidak seorangpun bisa merendahkan jiwa dalam diriku, justru merekalah yang mengatakan itu yang merendahkan diri mereka sendiri". Yang artinya nilai (virtue) dari diri kita tidak dipengaruhi oleh orang lain. Perkataan orang lain, perbuatan orang lain kepada kita bukanlah sesuatu yang dapat merendahkan diri kita ataupun mengurangi kebahagiaan kita. Jika ada orang yang menilai buruk niat baik kita, kita bisa mengatakan "itu kan menurut dia". Kalau kata pepatah 'dipuji tidak terbang, dihina tidak tumbang' hehe... Bahkan dalam stoisisme juga diajarkan bahwa kejahatan yang kita anggap jahat pada diri kita sendiri itu sebenarnya terjadi karena kitalah yang mengizinkannya, bukan mereka yang melakukannya. Jadi ketika ada orang yang merasa terjahati maka yang salah adalah orang yang terjahati itu--- sekilas terdengar lucu ya wkwk sudah dijahati tapi malah disalahkan. Dalam stoic ia disalahkan karena dialah yang mengizinkan perkataan/perbuatan itu untuk menyakitinya. Toh perkataan hanyalah perkataan hanya sebuah kata2 tidak akan mengubah level kebahagiaan kita. 

Pada kenyataannya sebagian besar hal2 yang kita anggap jahat itu sebenarnya belum tentu itu memang benar2 dilakukan untuk menjahati kepada kita. Misal seseorang yang lupa mengucapkan ulang tahun untuk kita, padahal sebelumnya kita telah memberinya ucapan dan kado ulang tahun, kita akan menganggapnya dia tidak peduli pada kita, dia sengaja melakukan itu, dan akibatnya kita akan berbalik menggerutu, membenci dia, melakukan hal2 yang merugikan dia, menghasut orang2 agar sepemikiran dengan kita padahal realitasnya hanya 'dia lupa mengucapkan ulang tahun' itu saja. Perihal 'dia tidak peduli dengan kita', 'dia sengaja melakukan itu' hanya muncul sebagai persepsi diri kita sendiri. Kita harus bisa membedakan mana yang objektif dan mana yang subjektif. Sebagian besar bumbu2 dari pikiran kita hanya akan membuat sesuatu hal yang awalnya sepele menjadi lebih buruk. 

Untuk mengatasi hal ini dalam stoa kita diajarkan cara berpikir S.T.A.R (Stop, Think, Asses, Respond). Jadi ketika kita merasakan munculnya emosi negatif seperti curiga, cemburu, marah, benci dan sebagainya kita harus men-Stop (memberhentikan) pikiran itu karena jika tidak kita akan terjerumus ke dalam jurang pikiran yang akan membawa kita pada jalan tak berujung yang akan merugikam diri kita sendiri. 
Kemudian setelah memberhentikan pikiran yang dapat menjerumuskan itu kita baru dapat berpikir  (Think) secara rasional. Karena sebagian besar hal yang muncul setelah berpikir negatif itu adalah hal2 yang irrasional. Setelah kita berhenti memikirkan hal2 negatif yang muncul dalam fikiran kita, kita akan lebih mudah untuk berfikir, di sini kita bisa berfikir menggunakan nalar dan secara rasional. Setelah mempertimbangkan segalanya barulah kita menilai (Asses). Di sini kita akan menilai apakah hal itu benar2 negatif atau buruk untuk kita atau sebenarnya ini hanya perspektif kita? Nah setelah berpikir dan menilai barulah kita memberikan tanggapan (Respond) sesuatu tersebut. Tentu tanggapan yang dihasilkan setelah berpikir secara rasional dan menilai akan berbeda dengan tanggapan sesaat yang kita berikan saat terpikir hal negatif tersebut. Jadi stoa juga mengajarkan kita untuk tidak menjadi orang yang responsif. 

Okay, itulah sepercik pandanganku mengenai kemerdekaan. Kalau menurut kamu bagaimana? Menurutmu sudahkah kamu merdeka? Dari persepsi orang lain maupun diri sendiri? :"(

Kalau belum yuk kita sama2 belajar.... Ohiyaa kalau kamu ingin belajar lebih dalam tentang apa2 yang kutuliskan di atas kamu dapat menemukannya dalam buku Filosofi Teras dari Henry Manampiring yaa... Si putih kuning itu sangat cocok untuk menemanimu yang ingin berbenah menjadi pribadi yang lebih baik lagi tentunya. Happy reading n happy independence day guys... 🥰

Komentar

Postingan Populer